Thursday, November 12, 2009
Kitab Tauhid
TAUHID (HAKEKAT DAN KEDUDUKANNYA)
Firman Allah Subhanahu wata’ala :
]وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون[ِ (الذريات:56)
“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah([1]) kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 56).
]وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت[(النحل: من الآية:36)
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thoghut”([2]).” (QS. An Nahl, 36).
]وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا[
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al Isra’, 23-24).
]قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[
“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am, 151-153).
Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata : “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah Subhanahu wata’ala : “Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain.([3])”
Mu’adz bin Jabal Radhiallahu’anhu berkata :
كنت رديف النبي على حمار، فقال لي :" يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد، وما حق العباد على الله ؟ قلت : الله ورسوله أعلم، قال : حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا، قلت : يا رسول الله، أفلا أبشر الناس ؟ قال : " لا تبشرهم فيتكلوا ".
“Aku pernah diboncengkan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku : “ wahai muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya, dan apa hak hamba-hambaNya yang pasti dipenuhi oleh Allah?, Aku menjawab : “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda : “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya ialah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya : ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?, beliau menjawab : “Jangan engkau lakukan itu, karena Khawatir mereka nanti bersikap pasrah” (HR. Bukhari, Muslim).
Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini :
1. Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah Ta'ala.
2. Ibadah adalah hakekat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.
3. Barang siapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada Allah Tabaroka wata’ala inilah sebenarnya makna firman Allah :
]ولا أنتم عابدون ما أعب[
“Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah” (QS. Al Kafirun, 3)
4. Hikmah diutusnya para Rasul [adalah untuk menyeru kepada tauhid, dan melarang kemusyrikan].
5. Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat.
6. Ajaran para Nabi adalah satu, yaitu tauhid [mengesakan Allah Subhanahu wata’ala saja].
7. Masalah yang sangat penting adalah : bahwa ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thoghut.
Dan inilah maksud dari firman Allah Subhanahu wata’ala :
]فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى[
“Barang siapa yang mengingkari thoghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat” (QS. Al Baqarah, 256).
8. Pengertian thoghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Allah.
9. Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al An’am menurut para ulama salaf penting kedudukannya, didalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.
10. Ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al Isra' mengandung 18 masalah, dimulai dengan firman Allah :
]لا تجعل مع الله إلها آخر فتقعد مذموما مخذولا[
“Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela” (QS. Al Isra’, 22).
Dan diakhiri dengan firmanNya :
]ولا تجعل مع الله إلها آخر فتلقى في جهنم ملوما مدحورا[
“Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakkan kedalam neraka jahannam dalam keadaan tercela, dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS. Al Isra’, 39).
Dan Allah mengingatkan kita pula tentang pentingnya masalah ini, dengan firmanNya:
]ذلك مما أوحى إليك ربك من الحكمة[
“Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu” (QS. Al Isra’, 39).
11. Satu ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’, disebutkan didalamnya 10 hak, yang pertama Allah memulainya dengan firmanNya:
] واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا [
“Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja), dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun.” (QS. An Nisa’, 36).
12. Perlu diingat wasiat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam di saat akhir hayat beliau.
13. Mengetahui hak-hak Allah yang wajib kita laksanakan.
14. Mengetahui hak-hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah apabila mereka melaksanakannya.
15. Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat([4]).
16. Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahah.
17. Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.
18. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam merasa khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah.
19. Jawaban orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.
20. Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.
21. Kerendahan hati Rasulullah, sehingga beliau hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang dari sahabatnya.
22. Boleh memboncengkan seseorang diatas binatang, jika memang binatang itu kuat.
23. Keutamaan Muadz bin Jabal..
________________________________________
([1]) Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah ta’ala dengan mentaati segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW. Dan inilah hakekat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.
Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhoi oleh Allah. Dan suatu amal akan diterima oleh Allah sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas karena Allah semata dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.
([2]) Thoghut ialah : setiap yang diagungkan selain Allah dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan. Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.
([3]) Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.
([4]) Tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena Rasulullah menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah. Sehingga tidak mau berlomba lomba dalam mengerjakan amal sholeh. Maka Mu’adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat.
Sunday, November 8, 2009
Firman Allah Subhanahu wata’ala :
]الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون[
“Orang-orang yang beriman dan tidak menodai keimanan([1]) mereka dengan kedzoliman (kemusyrikan)([2]) mereka itulah orang-orang yang mendapat ketentraman dan mereka itulah orang-orang yang mendapat jalan hidayah”, (QS. Al An’am, 82).
Ubadah bin Shomit Radhiallahu’anhu menuturkan : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
" من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه والجنة حق والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل " أخرجاه
“Barang siapa yang bersyahadat([3]) bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah saja, tiada sekutu bagiNya, dan Muhammad adalah hamba dan RasulNya, dan bahwa Isa adalah hamba dan RasulNya, dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari padaNya, dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkanya ke dalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya”. (HR. Bukhori & Muslim)
Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari Itban Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah bersabda :
" فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله "
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala mengharamkan neraka bagi orang-orang yang mengucapkanلا إله إلا الله dengan ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah”.
Diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
" قال موسى يا رب، علمني شيئا أذكرك وأدعوك به، قال : قل يا موسى : لا إله إلا الله، قال : يا رب كل عبادك يقولون هذا، قال موسى : لو أن السموات السبع وعامرهن – غيري – والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفـة، مالت بهـن لا إله إلا الله " (رواه ابن حبان والحاكم وصححه).
“Musa berkata : “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingatMu dan berdoa kepadaMu”, Allah berfirman :”Ucapkan hai Musaلا إله إلا الله ”, Musa berkata : “Ya Rabb, semua hambaMu mengucapkan itu”, Allah menjawab :” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimatلا إله إلا الله diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimatلا إله إلا الله lebih berat timbangannya.” (HR. Ibnu Hibban, dan Imam Hakim sekaligus menshohehkannya).
Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits (yang menurut penilaiannya hadits itu hasan) dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu ia berkata aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :
" قال الله تعالى : يا ابن آدم، لو أتيتني بقراب الأرض خطايا، ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا، لأتيتك بقرابها مغفرة "
“Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Hai anak Adam, jika engkau datang kepadaKu dengan membawa dosa sejagat raya, dan engkau ketika mati dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatupun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sejagat raya pula”.
Kandungan bab ini :
1. Luasnya karunia Allah.
2. Besarnya pahala tauhid di sisi Allah.
3. Dan tauhid juga dapat menghapus dosa.
4. Penjelasan tentang ayat yang ada dalam surat Al An’am.
5. Perhatikan kelima masalah yang ada dalam hadits Ubadah.
6. Jika anda memadukan antara hadits Ubadah, hadits Itban dan hadits sesudahnya, maka akan jelas bagi anda pengertian kalimat لا إله إلا الله, juga kesalahan orang-orang yang tersesat karena hawa nafsunya.
7. Perlu diperhatikan syarat-syarat yang disebutkan dalam hadits Itban, (yaitu ikhlas semata-mata karena Allah, dan tidak menyekutukanNya).
8. Para Nabi pun perlu diingatkan akan keistimewaan لا إله إلا الله .
9. Penjelasan bahwa kalimatلا إله إلا الله berat timbangannya mengungguli berat timbangan seluruh makhluk, padahal banyak orang yang mengucapkan kalimat tersebut.
10. Pernyataan bahwa bumi itu tujuh lapis seperti halnya langit.
11. Langit dan bumi itu ada penghuninya.
12. Menetapkan sifat sifat Allah apa adanya, berbeda dengan pendapat Asy’ariyah ([4]).
13. Jika anda memahami hadits Anas, maka anda akan mengetahui bahwa sabda Rasul yang ada dalam hadits Itban : “Sesungguhnya Allah mengharamkan masuk neraka bagi orang-orang yang mengucapkan لا إله إلا الله dengan penuh ikhlas karena Allah, dan tidak menyekutukanNya”, maksudnya adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, bukan hanya mengucapkan kalimat tersebut dengan lisan saja.
14. Nabi Muhammad dan Nabi Isa adalah sama-sama hamba Allah dan RasulNya.
15. Mengetahui keistimewaan Nabi Isa, sebagai Kalimat Allah([5]).
16. Mengetahui bahwa Nabi Isa adalah ruh diantara ruh-ruh yang diciptakan Allah.
17. Mengetahui keistimewaan iman kepada kebenaran adanya surga dan neraka.
18. Memahami sabda Rasul : “betapapun amal yang telah dikerjakannya”.
19. Mengetahui bahwa timbangan itu mempunyai dua daun.
20. Mengetahui kebenaran adanya wajah bagi Allah.
________________________________________
([1]) Iman ialah : ucapan hati dan lisan yang disertai dengan perbuatan, diiringi dengan ketulusan niat karena Allah, dan dilandasi dengan berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah.
([2]) Syirik disebut kezholiman karena syirik adalah menempatkan suatu ibadah tidak pada tempatnya, dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya.
([3]) Syahadat ialah : persaksian dengan hati dan lisan, dengan mengerti maknanya dan mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya, baik lahir maupun batin.
([4]) Asy’ariyah adalah salah satu aliran teologis, pengikut Syekh Abu Hasan Ali bin Ismail Al Asy’ari (260 – 324 H = 874 – 936 M). Dan maksud penulis di sini ialah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana yang disebutkan dalam Al qur’an maupun As sunnah. Termasuk sifat yang ditetapkan adalah kebenaran adanya wajah bagi Allah, mengikuti cara yang diamalkan kaum salaf sholeh dalam masalah ini, yaitu : mengimani kebesaran sifat-sifat Allah yang dituturkan Al qur’an dan As sunnah tanpa tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil. Adapun Asy’ariyah, sebagian mereka ada yang menta’wilkannya (menafsirinya dengan makna yang menyimpang dari makna yang sebenarnya) dengan dalih bahwa hal itu jika tidak dita’wilkan bisa menimbulkan tasybih (penyerupaan) Allah dengan makhlukNya, akan tetapi perlu diketahui bahwa Syekh Abu Hasan sendiri dalam masalah ini telah menyatakan berpegang teguh dengan madzhab salaf sholeh, sebagaimana beliau nyatakan dalam kitab yang ditulis di akhir hidupnya, yaitu Al Ibanah ‘an ushulid diyanah (editor : Abdul Qodir Al Arnauth, Bairut, makatabah darul bayan, 1401 H) bahkan dalam karyanya ini beliau mengkritik dan menyanggah tindakan ta’wil yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang dari madzhab salaf.
([5]) Kalimat Allah maksudnya bahwa Nabi Isa itu diciptakan Allah dengan firmanNya “Kun” (jadilah) yang disampaikanNya kepada Maryam melalui malaikat Jibril.
Thursday, October 8, 2009
Bencana genpa bumi di Padang,Indonesia yang telah menenggelamkan 4 buah kampong,meruntuhkan bangunan-banguna hotel dan rumah-rumah dengan lebih 4000 ribu nyawa terkorban. Lebih menyedihkan lagi hampir kebanyakkan mereka yang mati tertimbus ditelan bumi sedalam 30 miter tidak dapat ditemui lagi.
Bagi kita umat Islam yang berpegang kepada Al-Quran dan sunnah Nabi s.a.w semestinya telah terjawab segala persoalan tersebut apabila kembali kepada Al-Quran dan sunnah kerana pegangan umat islam,apa sahaja yang berlaku didalam kehidupan manusia khasnya adalah kehedak Allah S.W.T dan ketenyuan daripadanya,bukan berlaku secara kebetulan atau semulajadi.Aqidah umat Islam pada kebanyakan perkara yang berlaku didalam kehidupan manusia didorong oleh sebab dan faktor tertentu samada sebab itu diketahui dengan lojik akal atau mengetahui melalui kaca mata agama.Banyak perkara yang berlaku jelas sebabnya seperti sakit disebabkan kuman,virus dan sebagainya setelah disahkan oleh doctor dapat diterima oleh semua golongan manusia kerana disokong oleh lojik akal.
Kadang kala berlaku perkara yang tidak diketahui sebabnya tetapi ianya ada, seperti gempa bumi, tidak siapa pun yang mengetahui sebab yang tepat walaupun ramai cerdik pandai yang membuar kajian yang akhirnya sampai kepada natijah bahawa peristiwa itu berlaku secara kebetulan atau semulajadi dan kalau ada pun mereka yang mengatakan sebabnya berpunca dari gerakan kerak bumi tetapi terkadang kurang tepat.Asasnya adalah kerana bencana itu luar daripada kemampuan pemikiran dan sempadan akal manusia.Hakikatnya, tidak ada otak yang sampai kepadnya kecuali mereka yang dianugerahkan kefahaman dalam agama oleh Allah S.W.T.
Bagi umat islam hendaklah melahirkan rasa bertuah diatas anugerah ilahi kaca mata agama kepada mereka yang boleh melihat sebab-sebab bencana yang berlaku yang mana tidak sampai kepadanya pemikiran manusia lain.Sememangnya pengetahuan yang mereka miliki itu, mendorong mereka supaya membuat tindakan positif yang menghindar mereka daripada terjerumus kelembah negetif kecuali orang-orang yang bodoh dan lemah fikiran.Mereka beranggapan hanya memadai dengan pengetahuan sahaja tanpa membuat sebarang tindakan positif.Kehidupan mereka hanya mampu berserah kepada nasib sahaja samada baik atau buruk.
Islam mengajar kita supaya membina kekuatan mental mahupun fizikal.Dalam padsa itu juga islam sangat membecikan mereka yang tidak mahu membaiki kelemahan.Sabda Nabi s.a.w;
(المؤمن القوة خير وأحب الى الله من المؤمن الضعيف)
Maksudnya:
Seorang mukmin yang kuat lagi gagah lebih baik dan lebih dikasihi kepda Allah S.W.T daripda seorang mukmin yang lemah’.
Dengan kekuatan diri dan bantuan Allah S.W.T manusia mampu mengubah nasib dirinya kearah kebaikan.Tidak ada siapa yang lahir di dunia ini dengan sifat yang sempurna,bahkan setiap manusia itu lahir dalam serba kelemahan.Ini sudah manjadi sunnah Allah di dunia ini.Allah S.W.T tidak akan mengubah nasib diri manusia melainkan ia sendiri berusaha mengubahnya.
Firman Allah S.W.T:
(ان الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا بانفسهم)
Maksudnya:
“Sesungguhnya Allah S.W.T tidak mengubah nasib mana-mana kaum itu sehingga mereka sendiri yang mengubah nasib diri mereka’.
Oleh itu umat islam perlu sedar dengan merenung dan mengggunakan kaca mata agama,
‘Apakah sebab berlaku banyak gempa bumi di Indonesia?”
Supaya ada tindakan positif, bukan sekadar mengetahui kemudian takut dan bimbang kemungkinan akan menimpa masyarakat kita bencana yang sama kerana kesalahan yang sama yang dilakukan.Tidak cukup setakat itu tanpa ada tindakan yang menyelamatkan diri dan masyarakat.
Apabila kita merenung berpandukan kaca mata agama,terdapat dua sebab utama berlaku gempa bumi di Indonesia:
1- Dosa serta terpesong daripada jalan agama.
Indonesia Negara paling ramai yang beragama islam didunia dan banyak pondok-pondok agama yang didirikan tapi selalu dilanda azab gempa bumi dan gunung berapi.
Perlu disedari bahawa islam itu bukan dinilai dengan amalan yang dihidupkan dan syiar yang ditegakkan semata-mata bahkan dinilai melalui aqidah yang sejahtera yang tidak terpesong.Realiti yang berlaku di Indonesia gejala pemesongan aqidah tumbuh dengan subur dan berleluasa dikalangan masyarakat setempat terutama di negeri-negeri dimana lahirnya kumpulan-kumpulan yang menyeleweng seperti Syiah,sufi,tarikat dan lain-lain lagi yang subur lahir didalamnya bid’ah seperti penyembahan kubur,bertawassul dengan orang mati,pemujaan wali-wali dan banyak lagi.
Islam yang hidup di Indonesia dikotori dengan fahaman pemukiran dan amalan-amalan yang jauh menyeleweng daripada ajaran Islam yang sebenar.
Walaupun setiap puak masing-masing mendakwa bahawa mereka sahajalah golongan yang benar tanpa merujukk kepada Al-Quran dan As-sunnah serta fahaman salafussolih.Masing-masing ta’sub membabi buta dengan fahaman mereka.Biarpun syiar islam seperti solat,memakmurkan masjid dan rakyatnya masih kuat bepegang kepada ajaran agama tetapi dalam keadaan terpesong ini semua tidak ternilai disisi Allah S.W.T sekiranya penyelewengan didalam aspek aqidah,ibadat,maksiat dan kezaliman dengan berlaluasa.Kesalahan ini adalaj lebih besar disisi Alllah S.W.T dan berhak mengundang azabnya.
2- Diantara tanda-tanda hampirnya Qiamat.
Rasululllah s.a.w menyabut didalam hadisnya bahawa tanda-tanda hamper Qiamat ialah banyak berlaku gempa bumi.Sabda Nabi s.a.w:
عن أبى هريرة رضى الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لا تقم الساعة حتى تقتل فئتان عظيمتان يكون بينهما مةتلة عظيمة دعوتهما واحدة وحتى يبفث دجالون كذابون من ثلاثين كل يزعم أنه رسول الله وحتى يقبض العلم وتكثر الزلازل.............)رواه البخارى
Maksudnya: Daripada Abi Hurairah r,a bahawa Rasulullah s.a.w bersabda “ Tidak berlaku Qiamat sehingga berperang dua golongan yang besar yang mengorbankan jumlah yang besar sedangkan dasar kedua-duanya satu dan sehingga lahir dajal-dajal pendusta yang hampir 30 orang masing-masing mendakwa rasul Allah S.W.T dan sehingga diangkat ilmu dan berlaku banyak gempa bumi.”
Jika manusia masih leka dan lalai dengan dunia,ingatlah bahawa dunia ini tidak berharga lagi setelah berlaku Qiamat dan manusia akan bertamu dengan penyesalan yang tidak ada kesudahan. Bahkan gempa bumi itu sendiri merupakan Qiamat kecil yang memusnahkan manusia yang derharka kepada AllahS.W.T.
Perlukan difahami bahawa setaiap muslim maestilah sentiasa ingat dan sentiasa perbaharui iman kepada hari akhirat,terutama ketika datang amaran Ilahi.Hakikat tanda-tanda awal yang berlaku seperti gempa bumi
My Blog List
-
Tentang Saf15 years ago
-
-
-
-
-
-
-
WASIAT PENTING RASULULLAH YANG DILUPAKAN
Diriwayatkan dari Umar Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"لا تطروني كما أطرت النصارى عيسى بن مريم، إنما أنا عبد، فقولوا عبد الله ورسوله"
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : Abdullah (hamba Allah) dan Rasulullah (Utusan Allah)”
(HR. Bukhori dan Muslim).
Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"إياكم والغلو، فإنما أهلك من
كان قبلكم الغلو"
“Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian”
(HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu majah dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu).


