Sunday, May 16, 2010

BAB 4

TAKUT KEPADA SYIRIK

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء[

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendakiNya”. (QS. An Nisa’, 48)

Nabi Ibrahim berkata :

]واجنبني وبني أن نعبد الأصنام[

“ ……. Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari perbuatan (menyembah) berhala”. (QS. Ibrahim, 35)

Diriwayatkan dalam suatu hadits, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

"أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر، فسئل عنه ؟ فقال : الرياء"

“Sesuatu yang paling aku khawatirkan dari kamu kalian adalah perbuatan syirik kecil, kemudian beliau ditanya tentang itu, dan beliaupun menjawab : yaitu riya'. (HR. Ahmad, Thobroni dan Abi Dawud).

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

"من مات وهو يدعو من دون الله ندا دخل النار"

“Barang siapa yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka masuklah ia kedalam neraka”. (HR. Bukhori)

Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

"من لقي الله لا يشرك به شيئا دخل الجنة ومن لقيه يشرك به شيئا دخل النا"

“Barang siapa yang menemui Allah (mati) dalam keadaan tidak berbuat syirik kepadaNya, pasti ia masuk surga, dan barang siapa yang menemuiNya (mati) dalam keadaan berbuat kemusyrikan maka pasti ia masuk neraka”.

Kandungan bab ini :

  1. Syirik adalah perbuatan dosa yang harus ditakuti dan dijauhi.

  2. Riya’ termasuk perbuatan syirik.

  3. Riya’ termasuk syirik kecil ([1]).

  4. Riya’ adalah dosa yang paling ditakuti oleh Rasulullah terhadap orang orang sholeh.

  5. Dekatnya sorga dan neraka.

  6. Dekatnya sorga dan neraka telah sama-sama disebutkan dalam satu hadits.

  7. Barang siapa yang mati tidak dalam kemusyrikan maka pasti ia masuk sorga, dan barang siapa yang mati dalam kemusyrikan maka pasti ia masuk neraka, meskipun ia termasuk orang yang banyak ibadahnya.

  8. Hal yang sangat penting adalah permohonan Nabi Ibrahim untuk dirinya dan anak cucunya agar dijauhkan dari perbuatan menyembah berhala.

  9. Nabi Ibrahim mengambil ibrah (pelajaran) dari keadaan sebagian besar manusia, bahwa mereka itu adalah sebagaimana perkataan beliau :

]رب إنهن أضللن كثيرا من الناس[

“Ya Rabb, sesungguhnya berhala berhala itu telah menyesatkan banyak orang” (QS. Ibrahim, 36).

  1. Dalam bab ini mengandung penjelasan tentang maknaلا إله إلا الله sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhori, yaitu : membersihkan diri dari syirik dan pemurnian ibadah kepada Allah.

  2. Keutamaan orang yang dirinya bersih dari kemusyrikan.



([1]) Syirik ada dua macam : pertama : syirik akbar (besar) yaitu memperlakukan sesuatu selain Allah sama dengan Allah, dalam hal hal yang merupakan hak khusus bagiNya. Kedua : syirik ashghor (kecil), yaitu : perbuatan yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Al hadits sebagai suatu syirik, tetapi belum sampai ke tingkat syirik akbar. Adapun perbedaan diantara keduanya :

  1. Syirik akbar menghapuskan seluruh amal, sedang syirik kecil hanya menghapuskan amal yang disertainya saja.

  2. Syirik akbar mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka, sedang syirik kecil tidak sampai demikian.

  3. Syirik akbar menjadikan pelakunya keluar dari Islam, sedang syirik kecil tidak menyebabkan keluar dari Islam

Saturday, January 23, 2010

MENGAMALKAN TAUHID DENGAN SEBENAR-BENARNYA DAPAT MENYEBABKAN MASUK SYURGA TANPA HISAB

BAB 3





Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [(120) سورة النحل

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (berpegang teguh pada kebenaran), dan sekali kali ia bukanlah termasuk orang orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS, An Nahl, 120)

]والذين هم بربهم لا يشركون[

“Dan orang orang yang tidak mempersekutukan dengan Robb mereka (sesuatu apapun)”. (QS. Al Mu’minun, 59)



Husain bin Abdurrahman berkata: “Suatu ketika aku berada di sisi Said bin Zubair, lalu ia bertanya : “siapa diantara kalian melihat bintang yang jatuh semalam ?, kemudian aku menjawab : “ aku ”, kemudian kataku : “ ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak sedang melaksanakan sholat, karena aku disengat kalajengking”, lalu ia bertanya kepadaku : “lalu apa yang kau lakukan ?”, aku menjawab : “aku minta di ruqyah ([1])”, ia bertanya lagi : “apa yang mendorong kamu melakukan hal itu ?”, aku menjawab : “yaitu : sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy Sya’by kepada kami”, ia bertanya lagi : “dan apakah hadits yang dituturkan kepadamu itu ?”, aku menjawab : “dia menuturkan hadits kepada kami dari Buraidah bin Hushaib :

"لا رقية إلا من عين أو حمة"

“Tidak boleh Ruqyah kecuali karena ain([2]) atau terkena sengatan”.

Said pun berkata : “sungguh telah berbuat baik orang yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi Ibnu Abbas menuturkan hadits kepada kami dari Rasulullah, beliau bersabda :

"عرضت علي الأمم، فرأيت النبي معه الرهط، والنبي معه الرجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد، إذ رفع لي سواد عظيم، فظننت أنهم أمتي، فقيل لي : هذا موسى وقومه، فنظرت فإذا سواد عظيم، فقيل لي : هذه أمتك، ومعهم سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب، ثم نهض فدخل منزله، فحاض الناس في أولئك، فقال بعضهم : فلعلهم الذي صحبوا رسول الله r، وقال بعضهم : فلعلهم الذين ولدوا في الإسلام فلم يشركوا بالله شيئا، وذكروا أشياء، فخرج عليهم رسول الله أخبروه، فقال :" هم الذين لا يسترقون ولا يتطيرون ولا يكتوون وعلى ربهم يتوكلون " فقام عكاشة بن محصن فقال : ادع الله أن يجعلنى منهم، فقال : أنت منهم، ثم قال رجل آخر فقال : ادع الله أن يجعلني منهم، فقال :" سبقتك عكاشة ".

“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya, tiba tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku : bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya, tiba tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku : mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang yang masuk sorga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu, kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orang orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu ?, ada diantara mereka yang berkata : barangkali mereka itu orang orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata : barang kali mereka itu orang orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula.



Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda : “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathoyyur ([3]) dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan, dan mereka pun bertawakkal kepada tuhan mereka, kemudian Ukasyah bin Muhshon berdiri dan berkata : mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka, kemudian Rasul bersabda : “ya, engkau termasuk golongan mereka”, kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata : mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasul menjawab : “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah” (HR. Bukhori & Muslim)







Kandungan bab ini :

1. Mengetahui adanya tingkatan tingkatan manusia dalam bertauhid.

2. Pengertian mengamalkan tauhid dengan semurni-murninya.

3. Pujian Allah kepada Nabi Ibrahim, karena beliau tidak pernah melakukan kemusyrikan.

4. Pujian Allah kepada tokoh para wali Allah (para shahabat Rasulullah) karena bersihnya diri mereka dari kemusyrikan.

5. Tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya lukanya ditempeli dengan besi yang panas, dan tidak melakukan tathoyyur adalah termasuk pengamalan tauhid yang murni.

6. Tawakkal kepada Allah adalah sifat yang mendasari sikap tersebut.

7. Dalamnya ilmu para sahabat, karena mereka mengetahui bahwa orang-orang yang dinyatakan dalam hadits tersebut tidak akan mendapatkan kedudukan yang demikian tinggi kecuali dengan adanya pengamalan.

8. Semangatnya para sahabat untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan amal kebaikan.

9. Keistimewaan umat Islam dengan kwantitas dan kwalitasnya.

10. Keutamaan para pengikut Nabi Musa.

11. Umat umat terdahulu telah ditampakkan kepada Nabi Muhammad.

12. Setiap umat dikumpulkan sendiri-sendiri bersama para Nabinya.

13. Sedikitnya orang-orang yang mengikuti ajakan para Nabi.

14. Nabi yang tidak mempunyai pengikut akan datang sendirian pada hari kiamat.

15. Manfaat dari pengetahuan ini adalah tidak silau dengan jumlah yang banyak dan tidak kecil hati dengan jumlah yang sedikit.

16. Diperbolehkan melakukan ruqyah disebabkan terkena ain dan sengatan.

17. Luasnya ilmu para ulama salaf, hal itu bisa diketahui dari ucapan Said bin Zubair : “Sungguh telah berbuat baik orang yang mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi …”, dengan demikian jelaslah bahwa hadits yang pertama tidak bertentangan dengan hadits yang kedua.

18. Kemuliaan sifat para ulama salaf, karena ketulusan hati mereka, dan mereka tidak memuji seseorang dengan pujian yang dibuat buat.

19. Sabda Nabi : “Engkau termasuk golongan mereka” adalah salah satu dari tanda-tanda kenabian Beliau.

20. Keutamaan Ukasyah.

21. Penggunaan kata sindiran ([4]).

22. Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad.





--------------------------------------------------------------------------------

([1]) Ruqyah, maksudnya di sini, ialah : penyembuhan dengan bacaan ayat-ayat Al qur’an atau doa-doa.

([2]) Ain, yaitu : pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang, melalui pandangan matanya. Disebut juga penyakit mata.

([3]) Tathoyyur ialah : merasa pesimis, merasa bernasib sial, atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja.

([4]) Karena beliau bersabda kepada seseorang : “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah”, dan tidak bersabda kepadanya : “Kamu tidak pantas untuk dimasukkan ke dalam golongan mereka”.

Wednesday, November 25, 2009

Nik Aziz WAHABI ??

Tuesday, November 24, 2009



Selepas peristiwa bekas Mufti Perlis, Dr Mohd Asri Zainal Abidin ditangkap oleh pegawai penguatkuasa Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) baru-baru ini, kebanyakan media tanahair samada media bercetak ataupun media internet berlumba-lumba melaporkan tentang gerakan Wahabi di negara ini.

Laporan yang disiarkan ada yang pro dan ada yang kontra.

Dalam masa yang sama pula telah muncul beberapa orang pembela Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang menyuarakan kebimbangan terhadap gerakan Wahabi dan cuba menonjolkan diri sebagai jaguh menentang aliran kaum muda itu.

Mereka ini termasuklah Muhammad Uthman El-Muhammady, Felo Kehormat Institut Pemikiran dan Tamadun Islam Antarabangsa (Istac) yang telah menggunakan kolum tetap beliau di dalam Berita Minggu dengan mensensasikan perkara-perkara khilafiah bagi menghalalkan serangan terhadap pengikut Dr Mohd Asri.

Zamihan Mat Zin, anak Gua Musang, Kelantan yang kini menjadi Penolong Pengarah di Institut Latihan Islam (ILIM) dan Mahfuz Muhammad seorang pendakwah bertauliah JAIS juga antara pendakwah yang dilihat sangat anti dengan gerakan pembaharuan yang dibawa oleh Dr Mohd Asri dan sesiapa sahaja yang berbeza pendapat dengan pandangan ’jumhur’ dalam masyarakat melayu.

Yang terbaru, Menteri Besar Kelantan, Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat pula dituduh bersifat Wahabi seperti yang dilaporkan oleh akhbar Utusan Malaysia bertarikh 23 November 2009. Laporan itu telah memetik kata-kata Abdullah Sa’amah, 64 atau lebih dikenali sebagai Tok Guru Haji Lah Geting, katanya ;

“……….. kebanyakan kenyataan yang dibuat oleh Nik Abdul Aziz tidak selari sama sekali dengan aliran Sunnah Wal Jamaah malah lebih bersifat Wahabi”.

“Nik Abdul Aziz berasa alim disebabkan dia mempunyai ijazah sarjana tetapi bab keseluruhan agama seperti akidah, tasawur, fikah dan usuluddin (dia) terlalu jahil, dia bukan Mursyidul Am,” katanya.

Kata-kata beliau itu merujuk kepada beberapa pendapat Nik Aziz yang dilihat tidak selari dengan beliau dan amalan masyarakat Melayu di Malaysia, khususnya di kalangan guru-guru pondok di Kelantan.

Sebenarnya Haji Lah cuba memperbaharui polemik antara beliau dengan Nik Aziz dalam isu khilafiah, setelah isu tupai yang hangat di Kelantan lebih dua dekad yang lalu gagal menghakis sokongan rakyat Kelantan kepada Nik Aziz.

Beberapa orang guru pondok di Kelantan termasuklah guru dari Pondok Geting telah menyelar Nik Aziz ekoran ’fatwa’ Nik Aziz yang mengatakan tupai halal dimakan!

Kes tangkapan terhadap Dr Mohd Asri, yang juga pensyarah di USM dilihat sebagai ruang untuk menyambung polemik lama dengan Nik Aziz, apatah lagi dalam banyak perkara Nik Aziz bersependapat dengan Dr Asri.

Apakah benar Nik Aziz itu Kaum Muda atau Wahabi biarlah masa yang menentukan dan ianya akan terjawab dengan sendiri .

Bukan sahaja Nik Aziz, malah Ustaz Muhammad Daud Iraqi, Ketua Dewan Ulama PAS Kelantan (Bekas Ketua Dewan Ulama PAS Pusat) tidak terkecuali dilabel sebagai Wahabi.

Dari sudut sejarah, arus pembaharuan Islam yang pada mulanya bersumber dari Timur Tengah telah mengalir ke Kelantan, dibawa oleh pelajar yang belajar terutama di Mesir, melalui majalah dan kitab, sama ada yang langsung dari pusat sumber di Timur Tengah atau melalui pantai barat Semenanjung.

Kerana itu tokoh-tokoh ulama Kelantan tidak terasing daripada majalah al-Urwatul-Wuthqa (Paris, 1884), al-Manar (Kaherah, 1898), Al-Imam (Singapura, 1906), al-Ikhwan (Pulau Pinang, 1926), dan Saudara (Pulau Pinang, 1928).

Meskipun majalah ini tidak diminati oleh orang awam, namun amat besar pengaruhnya kepada kelompok ulama Islam pada masa itu. Pandangan yang dikemukakan ialah pembaharuan mengikut ajaran Islam sebenar dalam pelbagai bidang kehidupan kaum muslimin.

Dengan yang demikian, pengaruh pemikiran tokoh-tokoh tajdid di Timur Tengah terutama tokoh tajdid tiga serangkai, iaitu Syed Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Syed Rashid Ridha mengalir ke dalam pemikiran ulama tempatan seperti Tok Kenali, Haji Wan Musa dan Haji Mohd. Said yang kemudian menyebar ke tengah-tengah masyarakat Islam Kelantan yang ketika itu didominan oleh ilmu dari pondok-pondok.

Tokoh-tokoh pembaharuan di Kelantan mengajak kembali kepada al-Quran dan Hadits yang sahih dan tidak mahu terikat kepada taklid buta dalam beragama.

Maka lahirlah perbezaan pendapat di dalam beberapa masalah seperti masalah usalli, talqin, Sifat Dua Puluh, dan lain-lain, persoalan yang tidak didapati dalilnya sama ada di dalam al-Quran mahupun di dalam al-Sunnah terutama pada masa Haji Wan Musa.

Kemunculan Abu Abdillah Syed Hasan bin Nurhasan al-Khurasani (meninggal 1944) yang berasal dari Khurasan telah menyemarakkan pengajian Hadits Sahih secara berkitab di Kelantan serta pengajian yang menitikberatkan aqidah yang murni dan ibadah yang bersandarkan kepada dalil sunnah.

Di kalangan murid-murid dan rakyat Kelantan ketika itu, memangil beliau dengan nama Tok Khurasan.

Allahyarham Datuk Yusuf Zaki, seorang ulama tersohor Kelantan ketika diwawancara dengan Majalah Pengasuh suatu ketika dahulu, apabila ditanyakan pendapat beliau mengapa di Kelantan dewasa ini ada penentangan yang kuat menuduh Nik Abdul Aziz sebagai Wahabi, walhal dari sejak dahulu Nik Aziz sudah dikenali sebagai tokoh pembaharuan; beliau menjawab bahawa itu adalah sebab politik.

Bahkan sejak ayahnya lagi, Haji Nik Mat telah dituduh sebagai Kaum Muda hanya kerana menjadi pengikut Tok Khurasan.

Bacaan berkaitan

Nik Aziz sudah terlalu takbur

WASIAT PENTING RASULULLAH YANG DILUPAKAN

Diriwayatkan dari Umar Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

"لا تطروني كما أطرت النصارى عيسى بن مريم، إنما أنا عبد، فقولوا عبد الله ورسوله"

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : Abdullah (hamba Allah) dan Rasulullah (Utusan Allah)”

(HR. Bukhori dan Muslim).

Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

"إياكم والغلو، فإنما أهلك من

كان قبلكم الغلو"

“Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian”

(HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu majah dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu).